Abdul Wachid Dorong Kesejahteraan Guru Sekolah Rakyat Jadi Perhatian Pemerintah

Wakil ketua komisi VIII, Abdul Wachid saat melakukan peninjauan operasional dan fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi I Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (2/10/2026). Foto: Aaron/sai
Wakil ketua komisi VIII, Abdul Wachid saat melakukan peninjauan operasional dan fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi I Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (2/10/2026). Foto: Aaron/sai

Sukoharjo, pelita.co.id – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan tenaga pendidik dan pengasuh di Sekolah Rakyat Terintegrasi. Menurutnya, pola pembelajaran berbasis asrama (boarding school) membuat tanggung jawab guru dan tenaga pendamping lebih besar dibandingkan sekolah umum.

Hal tersebut disampaikan Wachid saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi I di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (2/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia turut melihat secara langsung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar serta kondisi sarana dan prasarana sekolah.

Bacaan Lainnya

“Tenaga pendidik Sekolah Rakyat ini masih memakai kurikulum dengan manajemen Kementerian Pendidikan Nasional. Tadi juga bapak ibu guru masih dari sana. Memang ini membutuhkan satu perhatian karena terkait dengan kesejahteraan perlu dipikirkan. Mereka tidak hanya memberikan pendidikan seperti sekolah umum, tapi ini boarding school, artinya ada pendampingan sampai menjelang mau tidur,” ujar Wachid.

Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah II tersebut menjelaskan, Sekolah Rakyat tidak hanya diarahkan untuk memberikan pendidikan formal, tetapi juga membentuk karakter peserta didik sekaligus menjadi bagian dari upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

“Sekolah Rakyat ini tidak hanya berhenti di masalah pendidikan, tapi juga perlunya pendidikan karakter. Karena Presiden Prabowo membuat Sekolah Rakyat itu tidak hanya untuk belajar saja, tetapi merupakan sekolah yang membutuhkan pendidikan karakter dan pengentasan kemiskinan atau memutus mata rantai kemiskinan di negeri ini,” terangnya.

Wachid juga menilai keterpaduan jenjang pendidikan dalam konsep Sekolah Rakyat dapat memberikan ruang pengembangan bagi peserta didik sesuai potensi dan prestasinya. Menurutnya, siswa berprestasi dapat diarahkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang sesuai, termasuk sekolah kedinasan maupun sekolah unggulan lainnya.

“Saya sangat optimis dengan adanya Sekolah Rakyat ini dan tidak hanya berhenti di sini, tapi terintegrasi. Artinya anak-anak yang berprestasi, yang IQ-nya di atas 100, itu akan dididik lebih berjenjang lagi seperti masuk di Taruna sampai masuk di Sekolah Garuda. Dan kalau memang berbakat di dalam usaha UMKM, itu juga akan diarahkan ke sana,” tegas Wachid.

Lebih lanjut, Wachid mengapresiasi penataan kawasan dan fasilitas pendukung di Kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi I Sukoharjo yang berdiri di atas lahan seluas 5 hektare. Ia menilai ketersediaan ruang kelas hingga fasilitas asrama menjadi bagian penting dalam mendukung penerapan model pendidikan berbasis asrama.

“Secara langsung kami melihat kondisi Sekolah Rakyat ini sudah dipakai oleh para siswa dan cukup lumayan bagus. Menempati tanah seluas 5 hektare, penataannya cukup bagus, dari ruang kelas sampai asramanya. Inilah model Sekolah Rakyat yang diprogramkan sebagai salah satu program unggulan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *