Jakarta, pelita.co.id – Konsolidasi Nasional Konferensi Republik bertajuk “Jalan Menata Kembali Republik” yang dijadwalkan berlangsung hari ini di Kampus Universitas Indonesia, Salemba, dibatalkan secara mendadak dan sepihak beberapa jam sebelum acara dibuka. Pembatalan disampaikan menjelang dini hari, setelah seluruh prosedur perizinan ditempuh sejak 19 Juni dan persiapan teknis di lokasi rampung sepenuhnya. Panitia memutuskan forum tetap berjalan secara daring dan menggelar konferensi pers di depan Kampus UI Salemba.
Panitia memilih menyikapi situasi ini dengan tenang. Komunikasi yang berjalan sangat baik selama sepekan dan persiapan yang telah rampung menunjukkan kampus semula membuka pintu bagi forum ini. Menurut penilaian panitia, perubahan yang datang menjelang dini hari lebih banyak dipengaruhi dinamika eksternal yang berada di luar kendali manajemen kampus. Alih-alih menghentikan kegiatan, panitia memilih melanjutkan forum dalam format daring agar agenda menata kembali republik tetap berjalan.
Ketua Pelaksana Konsolidasi Nasional Konferensi Republik, Ahmad Mujahid, memaparkan bahwa panitia menempuh seluruh tahapan administrasi yang dipersyaratkan universitas.
“Kami menempuh seluruh prosedur administrasi yang dipersyaratkan sejak 19 Juni. Sejak awal proses ini kami diterima dengan sangat baik oleh pihak kampus. Komunikasi dan kerja sama dalam sepekan terakhir berjalan positif, kooperatif, dan profesional,” kata Ahmad Mujahid di kampus UI Salemba, Jakarta Pusat pada Minggu, (28/6/2026).
Ia merinci tahapan yang sudah dilalui. “Kami telah bersurat resmi, beraudiensi langsung dengan Dekanat Fakultas Kedokteran, dan memperoleh konfirmasi awal secara verbal maupun tertulis. Pada 24 Juni kami bahkan menerima surat tugas untuk petugas fakultas yang akan mengawal kegiatan, lengkap dengan rincian biaya sewa tempat. Rekan media dapat menyaksikan sendiri bahwa instalasi fisik di dalam venue sudah terpasang sepenuhnya,” katanya.
Perubahan datang di saat-saat akhir. “Dinamika berkembang di detik terakhir. Pada pukul 01.00 dini hari tadi, kami menerima pemberitahuan resmi yang menyatakan pembatalan sepihak penggunaan ruangan untuk Rapat Kerja Nasional kami,” ujar Ahmad.
Panitia memilih menahan diri dalam menyikapi pembatalan tersebut. “Kami menyayangkan perubahan keputusan dalam waktu yang sangat singkat ini. Pada saat yang sama kami memahami bahwa ini situasi sulit bagi UI. Kami meyakini pembatalan mendadak ini tidak berangkat dari keinginan internal kampus. Ada faktor di luar kendali manajemen UI yang turut bekerja. Sebagai sesama elemen bangsa, kami menghormati posisi sulit tersebut,” katanya.
Ketua Umum Panitia Konferensi Republik, Sudirman Said, menempatkan peristiwa ini dalam kerangka yang lebih besar. “Represi dijalankan untuk memantik rasa takut. Karena itu, ketakutan inilah yang harus kita lawan. Jangan takut untuk terus bersuara. Pintu ruangan bisa dikunci, tetapi gagasan tidak bisa dibatasi,” tegasnya.
Sudirman mengingatkan pesan Mohammad Hatta, Wakil Presiden RI 1945-1957, dalam pidato pada Hari Alumni Universitas Indonesia yang pertama, 11 Juni 1957. Saat itu Hatta mengingatkan bahwa krisis kepercayaan terhadap pimpinan negara tidak dapat diatasi dengan mengganti demokrasi dengan kediktatoran, karena penggantian itu hanya akan melahirkan keadaan yang lebih buruk dan menghapus kepercayaan sama sekali. Pesan itu disampaikan Hatta di kampus yang sama, hampir tujuh dekade lalu.
Wakil Ketua Umum Panitia Konferensi Republik, Jaleswari Pramodhawardhani, menyoroti tekanan yang menurutnya membayangi kampus. “Kami memahami kesulitan pihak kampus yang berada di bawah tekanan tangan yang tak terlihat. Kami datang tidak membawa senjata. Lalu mengapa sebuah forum gagasan harus dicurigai?” katanya.
Sekretaris Jenderal Panitia Konferensi Republik, Yanuar Nugroho, mempertanyakan mengapa pertukaran gagasan dihalangi. “Mengapa gagasan ditakuti? Mengapa ide dihalangi? Barangkali karena terlalu lama perdebatan gagasan absen dari ruang publik kita. Yang ramai di depan mata adalah kepentingan, uang, kekuasaan, dan jabatan, sementara perdebatan tentang Indonesia yang lebih baik nyaris tidak ada,” ujarnya.
Suara senada datang dari dalam UI sendiri. Anggota Majelis Wali Amanat UI unsur mahasiswa, Razan Bayu Rachman, menilai tekanan justru kontraproduktif. “Tekanan semacam ini tidak akan mematikan gerakan. Justru tekanan inilah yang akan semakin membesarkannya,” katanya.
Forum konsolidasi tetap berlangsung secara daring mulai pukul 13.00 WIB dan terbuka bagi peserta yang telah terdaftar. Panitia menegaskan agenda menata kembali republik akan terus berjalan, dengan ruang atau tanpa ruang. Ruang boleh berpindah, tetapi percakapan tentang masa depan republik tidak berhenti.





