Jakarta, pelita.co.id – Suara Ibu Peduli menggelar acara Klik Rakyat sebagai mimbar warga terbuka, bersama untuk saling mendengar, belajar, dan merumuskan gagasan untuk Indonesia yang lebih adil.
Di acara Klik Rakyat ke-4, Guru Besar Filsafat Sosial di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Dr. Robertus Robet, M.A., memaparkan tema ‘Menguji Republikanisme di Indonesia’ dalam kuliah terbuka pada Selasa, (21/10/2025) di Ruang Aula Lt. 3, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta Pusat.
Mengawali kuliah terbuka, Prof. Robertus Robet menguraikan tiga persoalan yang saat ini dihadapai Indonesia yaitu klientelisme di level bawah, kartel partai di level tengah dan oligarki di level atas.
“Politik alternatif mengandalkan kaum muda. Namun problemnya, negoisasi mengandalkan elit,” kata Robertus Robet.
Di hadapan hampir 100 peserta, Guru Besar Filsafat Sosial ini menyampaikan, melalui reformasi kita menemukan demokrasi tapi kehilangan republikanisme karena sistem politik diinvasi oleh kartel yang mencari keuntungan dari sistem politik atau ekonomisasi politik.
BACA JUGA: Mati Sunyi Satu Dekade, Membaca Pelanggaran HAM Berat 2014-2024

Lalu bila sistem politik di Indonesia diinvasi oleh kartel ekonomi, bagaimana memulihkannya?
Robertus Robert menyampaikan tiga hal. Pertama adalah gagasan politik yang progresif. Kedua, gagasan politik yang progresif ini yang berakar dalam tradisi dan memori politik Indonesia.
“Ketiga, gagasan politik yang memberikan kerangka institusional bernegara bukan hanya kritik sosial atau ekonomi politik,” ujarnya.
Untuk menghasilkan sistem politik yang baik, harus ada pemisah atau demarkasi antara res publica dengangan res privata. Politik mesti dipisahkan antara urusan pemerintah dengan urusan keluarga.
Robertus Robet menyampaikan kepada publik tentang civic humanism yang mendefiniskan kembali politik sebagai arena dignitas.
“Kemudian mendorong sistem politik dan hukum yang menghalangi kekuasaan arbitrar di pelbagai level,” lanjutnya.
Kritik juga menjadi hal penting dalam reformasi republikasnisme. “Perlu untuk mempertahankan kritik sebagai tindakan kewarganegaraan,” ujar Robertus Robet.
Kemudian, perlu kembali menguatkan partisipasi publik. “Menguatkan partisipasi maksimum warga dalam pelbagai asosiasi alternatif,” ujarnya memungkasi.
Klik Rakyat Sebagai Arena Demokrasi Baru
Sebelumnya, Anna Hadi Purnamasari dari Suara Ibu Indonesia menyampaikan bahwa Klik Rakyat adalah arena demokrasi baru. “Mandat itu harus kita cabut. Arena yang kami tawarkan dinamakan Klik Rakyat,” ujarnya. Arena itu, kata Anna, harus diisi dengan kuliah terbuka, debat, diskusi, puisi, nyanyian, dan perlawanan rakyat.
Ia mengingatkan kembali peristiwa Maret 2025, ketika DPR mengesahkan revisi UU TNI meski ditolak publik luas. Aksi-aksi mahasiswa dan masyarakat sipil ditanggapi dengan gas air mata dan kekerasan aparat. “Kami tidak akan melarang anak-anak kami memperjuangkan masa depan mereka. Kami akan turun berjuang bersama mereka,” tegasnya.
Dengan tegas Anna menyatakan, mandat rakyat kepada parlemen dan pemerintah sesungguhnya sudah dicabut. Hanya saja penguasa merasa seolah sedang mengelola negeri ini, sehingga dengan senangnya menghamburkan uang negara. “Hari ini harus kita akui, kita sedang mengalami kengerian di jalanan. Pernyataan pendapat dihadapi dengan kekerasan. Hingga kemarin, penangkapan terhadap aktivis terus dilakukan. Mereka dicap kriminal, buku-buku dirampas. Dan satu lagi, anak-anak pelajar sekolah dasar hingga sekolah menengah, setiap hari cemas. Mereka dipaksa menelan makanan yang sewaktu-waktu dapat membahayakan tubuhnya. Judulnya, makanan bergizi gratis. Sesungguhnya, makanan yang berbahaya bagi generasi.”ujar Anna.
Jalanan belum aman, lanjut Anna, tapi kita harus terus bersuara. Kuat dan jernih. Kita harus menemukan cara bagaimana negeri kita terbebas dari politisi rakus. Kita harus menyusun rencana tentang Indonesia yang adil, menghormati hak asasi manusia, sehat, cerdas, bebas dari ketimpangan ekonomi dan sosial. Bebas dari rasa takut dan bersih dari manusia korup. “Saudari-saudara, inilah makna klik rakyat. Satu sama lain dari kita, rakyat, harus saling ngeklik,”tegas Anna.






