Robert Walters Indonesia Rilis Data Survei Fenomena Inflasi Jabatan Pekerja Profesional

Ilustrasi. Foto: pixabay/Mina Rad
Ilustrasi. Foto: pixabay/Mina Rad

Jakarta, pelita.co.id Konsultan spesialis rekrutmen profesional terkemuka, Robert Walters yang berfokus pada penempatan tenaga kerja profesional di semua tingkat senioritas merilis data survei LinkedIn tentang fenomena inflasi jabatan di kalangan profesional.

Melalui Robert Walters Indonesia, yang berspesialisasi untuk perekrutan kandidat dalam disiplin ilmu dan industri berikut: akuntansi dan keuangan, perbankan dan jasa keuangan, hukum, sumber daya manusia, teknologi informasi, penjualan dan pemasaran, serta rantai pasokan (supply chain), pengadaan dan manufaktur mereka menyampaikan data survei pada bulan Januari 2024.

Bacaan Lainnya

Dalam temuannya, 90 persen pekerja profesional sepakat bahwa jabatan pekerjaan merupakan faktor yang penting atau sangat penting saat mereka melamar untuk suatu posisi pekerjaan. Diantara para pekerja profesional muda, sebanyak 53 persen dari mereka berharap untuk mendapatkan promosi dalam waktu 12 bulan setelah bergabung dengan perusahaan.

BACA JUGA: Puan Maharani: Kenaikan Upah Pekerja Sangat Penting

Country Head Robert Walters Indonesia, Eric Mary. Foto: istimewa
Country Head Robert Walters Indonesia, Eric Mary. Foto: istimewa

“Dalam pasar kerja yang kompetitif saat ini, praktik inflasi jabatan menjadi hal yang umum terjadi, meskipun tidak di semua industri,” kata Country Head Robert Walters Indonesia, Eric Mary dalam keterangannya pada Jumat, (26/4/2024).

“Menggunakan jabatan yang dibesar-besarkan dapat menjadi faktor motivasi bagi karyawan untuk mempertimbangkan langkah karir selanjutnya. Hal ini memiliki potensi untuk menciptakan dampak positif, seperti mengurangi stereotip gender dan bias lainnya, serta mengompensasi gaji yang lebih rendah. Namun, penting bagi organisasi untuk melakukannya dengan hati-hati agar tetap menjaga transparansi, serta dapat menarik kandidat yang sesuai dengan posisi tersebut,” lanjutnya.

Sebanyak 56% perusahaan yang berpartisipasi dalam survei menyatakan bahwa mereka telah menerapkan strategi inflasi jabatan sebagai bentuk promosi untuk menarik talenta. Menariknya, hanya 11% dari perusahaan tersebut yang tidak melihat adanya perubahan signifikan.

Pendekatan Inflasi Jabatan untuk Menarik dan Mempertahankan Talenta

Dalam setahun terakhir, terlihat tren yang menunjukkan peningkatan jumlah perusahaan di Indonesia yang membesar-besarkan titel atau jabatan pekerjaan. Peningkatan tersebut mencapai 27% (berdasarkan data LinkedIn Talent Insights) pada posisi dengan titel seperti “Direktur” dan “Manajer” yang ditujukan bagi para profesional dengan pengalaman dua tahun. Umumnya, perusahaan melakukannya sebagai upaya untuk menarik dan mempertahankan talenta atau karyawan.

Namun, upaya ini sebenarnya memiliki tingkat keberhasilan yang terbatas dan dapat menimbulkan masalah baik bagi perusahaan maupun karyawan. Ini merupakan hasil pengamatan oleh Robert Walters Indonesia mengenai tren inflasi jabatan (job title inflation).

BACA JUGA: Kurniasih Mufidayati: Negara Harus Hadir Kuatkan Implementasi K3 di Perusahaan Berisiko Pekerja

Inflasi jabatan merujuk pada praktik perusahaan yang memberikan titel pekerjaan dengan cara dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan, yang mungkin tidak secara akurat mencerminkan tanggung jawab, senioritas, atau bahkan gaji yang sebenarnya pada posisi tersebut.

Meski demikian, penggunaan jabatan yang dibesar-besarkan memiliki tantangan tersendiri, dimana para profesional mungkin tidak menganggapnya sebagai indikator senioritas yang signifikan. Berdasarkan hasil temuan Robert Walters Indonesia, faktor-faktor seperti kemampuan mengelola tim (56%) dan persepsi mengenai pentingnya peran tersebut (23%) dianggap sebagai indikator senioritas yang lebih utama, sementara hanya 21% yang meyakini bahwa gelar C-suite atau kepala departemen mencerminkan senioritas.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jabatan yang dibesar-besarkan mungkin terlihat menarik pada awalnya, faktor faktor seperti kepemimpinan tim dan persepsi mengenai pentingnya peran tersebut memiliki pengaruh yang lebih besar dalam menentukan senioritas daripada sekadar memiliki jabatan yang bergengsi. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk menjaga transparansi mengenai peran dan tanggung jawab yang sebenarnya terkait dengan suatu posisi guna menghindari kebingungan.

“Dalam pasar kerja yang kompetitif saat ini, praktik inflasi jabatan menjadi hal yang umum terjadi, meskipun tidak di semua industri,” kata Country Head di Robert Walters Indonesia, Eric Mary dalam keterangannya pada Jumat, (26/4/2024).

“Menggunakan jabatan yang dibesar-besarkan dapat menjadi faktor motivasi bagi karyawan untuk mempertimbangkan langkah karir selanjutnya. Hal ini memiliki potensi untuk menciptakan dampak positif, seperti mengurangi stereotip gender dan bias lainnya, serta mengompensasi gaji yang lebih rendah. Namun, penting bagi organisasi untuk melakukannya dengan hati-hati agar tetap menjaga transparansi, serta dapat menarik kandidat yang sesuai dengan posisi tersebut,” lanjutnya.

Robert Walters Indonesia menyarankan manajer perekrutan untuk melakukan evaluasi yang cermat sebelum memutuskan untuk menerapkan pendekatan inflasi jabatan. Meskipun ada alasan yang valid untuk mempertimbangkan pendekatan ini, penting untuk mempertimbangkan secara menyeluruh pro dan kontra serta memahami potensi dampak jangka panjangnya terhadap organisasi.

PELITA.CO.ID di WhatsApp: pelita.co.id di WhatsApp Channel Dapatkan aplikasi PELITA.CO.ID di Google Play: pelita.co.id di Google Apps PELITA.CO.ID di Google News: pelita.co.id di Google News

Pos terkait

Tinggalkan Balasan