Bekasi, pelita.co.id – Anggota Komisi VII DPR RI Samuel JD Wattimena menilai kunjungan Panja Kawasan Industri Komisi VII DPR RI ke kawasan industri Greenland International Industrial Center (GIIC), Deltamas, Kabupaten Bekasi, memberikan harapan besar terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan industri.
Samuel mengatakan, kawasan industri yang memiliki luas sekitar 3.200 hektare tersebut telah diisi oleh berbagai perusahaan besar dunia. Menurutnya, kondisi tersebut harus diikuti dengan penguatan ekosistem tenaga kerja dan UMKM masyarakat sekitar agar dapat menjadi bagian dari rantai pasok industri.
“Dari luasnya lahan yang mencapai 3.200 hektare ini, sudah diisi oleh berbagai perusahaan-perusahaan besar dunia. Kemudian tadi saya mempertanyakan untuk area atau ruang menghadirkan para pekerja IKM maupun UMKM,” ujar Samuel disela-sela pertemuan dengan Pengelola Kawasan Industri GIIC, Deltamas, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).
Ia menilai, salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Karena itu, ia mendorong adanya pendidikan dan pelatihan yang secara khusus dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di kawasan industri tersebut.
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini menyebut, pengelola Kawasan Industri menyampaikan bahwa telah terdapat program beasiswa yang dikaitkan dengan sekolah-sekolah SMK. Namun, Pemerintah Kabupaten Bekasi juga mengharapkan adanya sekolah khusus yang dibangun untuk memproduksi tenaga kerja yang nantinya dapat disuplai ke dalam rantai pasok industri-industri besar.
“Yang kita harapkan adalah supply tenaga kerja. Tadi sudah dikatakan bahwa ada beasiswa yang dilakukan, tetapi ternyata beasiswa tersebut dikaitkan dengan sekolah-sekolah SMK yang ada,” katanya.
Selain tenaga kerja, Samuel menyoroti keberadaan UMKM di sekitar kawasan industri. Menurut dia, aktivitas UMKM tidak seharusnya hanya berkembang pada sektor rumah kontrakan dan usaha makanan atau restoran.
Ia mengatakan, keberadaan ribuan pekerja di kawasan industri akan menciptakan kebutuhan yang jauh lebih beragam, mulai dari kesehatan, pendidikan nonformal, hingga berbagai kebutuhan penunjang kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita melihat kebutuhan para pekerja, ini pasti tidak hanya masalah perut dan tidur. Tapi banyak kebutuhan-kebutuhan lainnya, menyangkut kesehatan, menyangkut pendidikan di luar pendidikan formal dan lain-lainnya. Ini juga memang perlu dikembangkan,” ujarnya.
Legislator Dapil Jawa Tengah I ini juga mendorong Kementerian Perindustrian untuk berkolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif dalam mengembangkan potensi masyarakat di sekitar kawasan industri.
Menurutnya, masyarakat yang tumbuh di sekitar kawasan industri terdiri dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga remaja. Potensi kreativitas mereka perlu didorong agar dapat melahirkan berbagai produk dan usaha baru.
“Kembali lagi, saya pribadi berharap kalau Kementerian Perindustrian bisa ngobrol dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, berkolaborasi. Ini perlu dilakukan,” katanya.
Samuel menilai, pengembangan UMKM juga perlu diperluas agar tidak hanya berorientasi pada sektor makanan dan kuliner. Menurutnya, terdapat banyak kebutuhan lain yang dapat menjadi peluang usaha masyarakat di sekitar kawasan industri.
Selain pengembangan UMKM, Samuel turut menyoroti aspek gizi dari makanan yang dikonsumsi para pekerja dan masyarakat di sekitar kawasan industri.
Ia menilai, pelaku restoran dan rumah makan perlu mendapatkan pengetahuan mengenai gizi sehingga makanan yang mereka sajikan tidak hanya memenuhi kebutuhan rasa dan kenyang, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan.
“Sekarang menurut saya waktunya juga mulai mengecek apakah makanan-makanan yang dihidangkan ini gizinya cukup,” ujar Samuel.
Menurutnya, perhatian terhadap gizi menjadi semakin penting seiring dengan adanya program pemerintah terkait penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah.
Samuel mengatakan, akan menjadi persoalan apabila anak-anak mendapatkan makanan bergizi di sekolah, tetapi di luar waktu tersebut mereka justru mengonsumsi makanan yang kandungan gizinya tidak diperhatikan.
“Saya tidak bilang makanannya tidak bergizi, tetapi perlu mulai masuk kepada kepedulian gizi,” tegasnya.
Ia berharap pengembangan kawasan industri tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan investasi dan penyerapan tenaga kerja, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem masyarakat yang lebih luas, termasuk penguatan pendidikan, UMKM, kesehatan, kreativitas, dan kualitas konsumsi masyarakat di sekitar kawasan.





