Ajie Kurniawan: Jaringan yang Baik Sangat Menentukan Keberhasilan Pemberdayaan Organisasi

Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Kalimantan Barat, Ajie Kurniawan, S.Kep., Ners., M.MRS., dalam Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) III bertema "Membangun Kader Militan dalam Meneguhkan Peran Nasyiah Berbasis Nilai Islam Berkemajuan" pada hari Jumat, 16 Januari 2026 di Aula Balai Penjaminan Mutu Pendidikan, Kalimantan Barat. Foto: istimewa
Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Kalimantan Barat, Ajie Kurniawan, S.Kep., Ners., M.MRS., dalam Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) III bertema "Membangun Kader Militan dalam Meneguhkan Peran Nasyiah Berbasis Nilai Islam Berkemajuan" pada hari Jumat, 16 Januari 2026 di Aula Balai Penjaminan Mutu Pendidikan, Kalimantan Barat. Foto: istimewa

Pontianak, pelita.co.id Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Kalimantan Barat, Ajie Kurniawan, S.Kep., Ners., M.MRS., menegaskan bahwa militansi kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) harus bertransformasi menjadi kekuatan kolektif yang berdampak luas. Hal ini disampaikannya sebagai narasumber dalam Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) III bertema “Membangun Kader Militan dalam Meneguhkan Peran Nasyiah Berbasis Nilai Islam Berkemajuan” pada hari Jumat, 16 Januari 2026 di Aula Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Barat.

Ajie menyatakan bahwa militansi tidak boleh hanya menjadi semangat individu, melainkan harus diwadahi dalam jaringan yang kuat untuk menyatukan suara dan sumber daya. Jaringan yang kokoh dan kompeten sangat penting bagi organisasi NA dalam menghadapi tantangan yang kompleks.

“Militansi kader Nasyiah diperkuat melalui visi misi yang disepakati bersama. Organisasi harus menjadi ruang aman untuk membangun solidaritas dan dukungan timbal balik, sehingga melahirkan rasa percaya saat melangkah bersama,” ujar Ajie.

Dalam pandangannya, keberhasilan NA sebagai struktur organisasi dapat diukur melalui dua indikator utama, yaitu :

  1. Indikator Kuantitatif: Pertumbuhan jumlah anggota, Frekuensi rapat-rapat dan pertemuan, jumlah proyek kolaborasi yang terlaksana, serta keberhasilan dalam penggalangan dana kolektif.
  2. Indikator Kualitatif: Peningkatan kapasitas/kompetensi anggota, berpengaruh terhadap kebijakan publik, serta pengambilan keputusan yang inklusif dan partisipatif dalam organisasi.

Untuk mencapai dua Indikator tersebut, Ajie mendorong NA menjalankan dua strategi, yaitu peningkatan kapasitas internal yang mumpuni. Pengembangan kepemimpinan dan sistem mentoring yang sistematis, di mana kader senior membimbing kader baru. Pelatihan manajemen proyek dan literasi digital, juga memberikan apresiasi terhadap kader-kader yang prestasi.

Kemudian kolaborasi eksternal yang progresif. Berkolaborasi dengan sektor publik (pemerintah), dan sektor swasta, hingga menjajaki jaringan internasional, serta mengundang ahli-ahli / profesional untuk memberikan pendidikan dan pelatihan bagi kader.

Tenaga Ahli Menteri UMKM RI ini juga menyoroti peran serta teknologi dalam memperkuat pergerakan. Ajie mendorong kader NA untuk memanfaatkan media sosial tidak hanya untuk informasi dan komunikasi, tetapi juga sebagai alat mobilisasi dan penggalangan guna mendukung kerja – kerja organisasi .

“Nilai Islam Berkemajuan menuntut kita untuk adaptif. Penggunaan analisis data untuk memahami tren sosial dan alat komunikasi daring untuk koordinasi lintas wilayah adalah bentuk nyata dari gerakan yang modern dan efisien,” tambahnya.

Ajie Kurniawan mengajak seluruh kader untuk terus bergerak dengan semangat kebaikan. “Mari kita jadikan jaringan ini sebagai wasilah untuk mencapai tujuan bersama dengan spirit Fastabiqul Khairot,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *