Jakarta, pelita.co.id – Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan, S.I.P. melaksanakan kunjungan kepada prajurit Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S yang menjadi korban insiden UNIFIL dan tengah menjalani perawatan di RS Saint George, Beirut pada Minggu, (5/4/2026).
“Indonesia berkomitmen untuk terus memberikan perlindungan kepada seluruh personel serta berperan aktif dalam mendukung upaya pemeliharaan perdamaian dunia melalui pengiriman Pasukan Garuda,” kata Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan.

BACA JUGA: Anggota Komisi XIII DPR Mafirion: Negara Tidak Boleh Kalah oleh Kekerasan
Dalam kegiatan tersebut, Komandan PMPP TNI didampingi oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Lebanon, Dicky Komar, DCO Seceast UNIFIL Kolonel Inf A. Juni Toa, serta Dirbinops PMPP TNI Kolonel Inf Untung Prayitno.
Pada kesempatan itu, Komandan PMPP TNI memberikan dukungan moril serta doa kepada tiga prajurit yang dirawat, yakni Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana, Praka Rico Pramudia, dan Praka Deni Rianto. Kehadiran tersebut menegaskan komitmen negara khususnya Pimpinan TNI untuk senantiasa hadir dan memberikan perhatian kepada prajurit yang bertugas di wilayah misi.
DPR Kecam Keras Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon
Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati, menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon. Mereka menjadi korban ledakan di Lebanon Selatan yang disebut berasal dari serangan Israel. Sari menegaskan bahwa tindakan keji yang merenggut nyawa prajurit terbaik bangsa harus dikecam keras.
“Bangsa Indonesia berduka atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam tugas mulia menjaga perdamaian dunia,” ujar Sari di Jakarta.
Adapun tiga prajurit yang gugur adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) M. Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menambahkan bahwa negara akan selalu hadir menghormati jasa mereka dan memastikan pengorbanan tidak dilupakan.
Insiden ini menambah daftar korban dari kontingen Indonesia di misi UNIFIL, setelah sebelumnya beberapa prajurit juga tewas akibat serangan di wilayah yang sama. Keluarga para prajurit kini menanti kepastian pemulangan jenazah ke tanah air.
Rangkaian serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian bermula pada Minggu (29/3/2026). Serangan pertama yang menyasar markas Kontingen Garuda TNI di Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan, mengakibatkan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon gugur dan tiga rekannya cedera. Saat mortar meledak, mendiang Farizal dilaporkan sedang menunaikan shalat di masjid markas.
Hanya berselang sehari, serangan kedua terjadi pada Senin (30/3/2026) di Bani Hayyan, Lebanon selatan. Tragedi ini menyebabkan Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar dan Serka (Anumerta) M Nur Ichwan gugur setelah kendaraan logistik yang mereka tumpangi meledak dan rusak parah. Insiden pada misi dukungan suplai tersebut juga melukai dua anggota TNI lainnya.
Serangan berlanjut pada Jumat (3/4/2026) malam, dengan ledakan di Pos UNIFIL El Adeisse kembali memakan korban. Serangan ketiga dalam sepekan ini mengakibatkan tiga prajurit TNI terluka, dengan dua di antaranya mengalami cedera serius.




