Oleh: Mulyono Sri Hutomo, wartawan dan dosen universitas di Jakarta
Saya pertama kali meliput Aksi Kamisan di tahun-tahun awalnya. Waktu itu pesertanya bisa dihitung dengan jari. Beberapa ibu tua berpakaian hitam, memegang foto anak-anak mereka yang hilang, berdiri diam di depan Istana Negara.
Tidak ada orasi. Tidak ada pengeras suara. Hanya diam yang beratnya tidak bisa diukur dengan timbangan mana pun.
Saya ingat bertanya kepada salah satu dari mereka: “Ibu tidak lelah?”
Ia menatap saya sebentar, lalu menjawab pelan: “Yang lelah harusnya negara. Bukan kami.”
Kalimat itu tidak pernah saya lupakan. Dan sekarang, tujuh belas tahun kemudian, setelah 901 Kamis berlalu satu per satu — kalimat itu terasa semakin berat, semakin tepat, dan semakin menyakitkan.
Setelahnya, yang saya ingat seorang dosen berorasi. Ia mantan aktivis 98 yang berhasil menduduki gedung DPR.
Tuturnya rapi, mengalir bersih memprotes rezim.
Sembilan ratus satu kali.
Coba bayangkan itu bukan angka. Bayangkan itu Kamis demi Kamis saat hujan, panas, pandemi, pergantian presiden, pergantian janji dan mereka tetap datang.
Dengan payung hitam yang sama. Dengan foto-foto yang sama yang ditempel di kain hitam lusuh.
Dengan tuntutan yang sama dan jawaban yang juga sama: tidak ada.
Di negara mana pun yang waras, aksi sebesar dan sepanjang ini sudah cukup untuk memaksa sesuatu bergerak. Tapi ini Indonesia di mana kesabaran korban justru sering dibaca sebagai tanda bahwa persoalannya bisa terus ditunda.
Aksi Kamisan lahir pada 18 Januari 2007. Digagas oleh para keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia berat: Tragedi 1965, penghilangan paksa aktivis 1997-1998, Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II, dan sederet luka lain yang aldara masih menganga karena tidak pernah benar-benar diobati.
Mereka tidak meminta balas dendam. Tidak meminta darah dibalas darah. Mereka hanya meminta sesuatu yang paling sederhana yang bisa diminta seorang manusia kepada negaranya: akui, usut, adili, dan pulihkan.
Empat kata. Tujuh belas tahun. Sembilan ratus satu minggu.
Belum selesai. Belum.
Saya sudah meliput cukup banyak rezim di negeri ini dengan presiden yang terus berganti untuk tahu bahwa cara mereka menghadapi Aksi Kamisan selalu sama, hanya bungkusnya yang berganti-ganti.
Rezim pertama mengabaikan. Rezim berikutnya bersimpati di mulut tapi diam di tindakan. Ada yang sempat mengundang perwakilan ke istana — pertemuan yang berakhir dengan teh hangat, senyum resmi, dan janji yang menguap sebelum sampai ke pintu keluar. Satu presiden pernah menyebut penyelesaian kasus HAM sebagai prioritas.
Prioritas yang rupanya selalu ada di urutan bawah daftar, tepat di bawah kepentingan-kepentingan lain yang tidak berani disebutkan dengan jujur.
Yang paling menyakitkan bukan pengabaian. Yang paling menyakitkan adalah ketika negara pura-pura peduli — karena itu berarti mereka tahu, mereka paham, dan mereka memilih untuk tidak melakukan apa-apa.
Ada yang berubah dalam 901 Kamis itu, meski bukan yang diharapkan.
Beberapa ibu yang berdiri di barisan paling depan di tahun-tahun awal sudah tidak bisa lagi hadir — bukan karena menyerah, tapi karena usia dan penyakit mendahului keadilan yang mereka tunggu. Mereka pergi tanpa pernah tahu siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya anak-anak mereka. Pergi dengan lubang yang tidak pernah ditutup oleh satu pun putusan pengadilan, satu pun permintaan maaf resmi, satu pun pengakuan yang jujur dari negara.
Itu bukan hanya tragedi keluarga. Itu aib bangsa yang kita pilih untuk hidup bersamanya seolah normal.
Sementara itu, beberapa pelaku atau mereka yang disebut-sebut terlibat sudah pensiun dengan tenang, menulis memoar, menerima penghargaan, bahkan menduduki jabatan-jabatan terhormat. Negara ini punya kebiasaan aneh: memperlakukan korban seperti beban, dan memperlakukan pelaku seperti aset.
Saya tidak menggunakan kata “diduga” di sini dengan sengaja. Saya sudah terlalu tua untuk bersembunyi di balik eufemisme jurnalistik ketika faktanya sudah cukup telanjang di depan mata.
Aksi Kamisan sering disebut sebagai simbol perlawanan tanpa kekerasan. Itu benar. Tapi saya ingin menyebutnya dengan cara lain: ini adalah cermin yang selama 901 Kamis terus diacungkan ke wajah negara — dan negara terus memalingkan muka.
Yang datang berdiri di sana bukan hanya korban dan keluarganya lagi. Ada mahasiswa yang belum lahir ketika peristiwa-peristiwa itu terjadi. Ada anak muda yang tidak punya hubungan darah dengan satu pun nama di foto-foto itu tapi mereka datang, karena mereka paham sesuatu yang seharusnya tidak perlu diajarkan: bahwa keadilan yang ditunda bukan hanya luka bagi yang menunggu, tapi racun bagi seluruh tubuh bangsa.
Sembilan ratus satu adalah angka yang seharusnya membuat kita semua tidak bisa tidur nyenyak.
Bukan karena aksinya belum berhenti — justru karena itulah bukti bahwa ada yang belum beres. Setiap Kamis yang berlalu tanpa jawaban adalah Kamis di mana negara ini memilih untuk menjadi lebih kecil dari yang seharusnya.
Saya tidak tahu kapan Aksi Kamisan akan berakhir. Saya harap ia berakhir bukan karena para pejuangnya kehabisan tenaga, tapi karena akhirnya setelah semua Kamis yang panjang itu negara ini akhirnya cukup berani untuk berdiri tegak, menatap matanya sendiri di cermin, dan berkata: kami salah, kami tahu siapa yang bersalah, dan kami tidak akan membiarkan ini berlalu tanpa pertanggungjawaban.
Tapi sampai hari itu tiba, mereka akan terus datang.
Setiap Kamis.
Dengan payung hitam yang sama.
Dan saya, selama kaki ini masih bisa berjalan, akan terus meliputnya.
Akan terus menempel poster protes.

