Oleh: Mulyono Sri Hutomo, dosen universitas di Jakarta
Saya pernah wawancara seorang mahasiswa semester enam jurusan komunikasi, tidak tanggung-tanggung, yang mengaku belum pernah selesai membaca satu buku pun dalam hidupnya. Bukan karena tak mampu beli. Bukan karena tak ada waktu. Ia hanya bilang, “Bosan, Pak. Panjang banget.”
Saya terdiam cukup lama setelah itu.
Bukan karena marah. Tapi karena sadar anak muda itu jujur. Dan kejujuran itu jauh lebih mengkhawatirkan daripada kebohongan mana pun yang pernah saya dengar selama menjadi jurnalis yang meliput berita.
Kita hidup di zaman di mana informasi tersedia seperti air dari keran tinggal putar, langsung mengalir. TikTok, Instagram, YouTube Shorts. Semuanya dirancang oleh insinyur-insinyur komputer berbayar mahal untuk membuat otak kita terus meminta lebih, lebih, dan lebih dalam waktu yang semakin singkat. Tujuh detik. Lima detik. Tiga detik. Kalau tidak menarik dalam hitungan itu, scroll.
Masalahnya, buku tidak bekerja seperti itu.
Buku meminta Anda duduk. Diam. Berpikir. Membiarkan kalimat meresap sebelum berganti halaman. Buku tidak peduli apakah Anda bosan di halaman dua belas, ia tetap akan menunggu di rak dengan sabar. Dan justru di situlah konfliknya: generasi yang terbiasa dikejar konten, tiba-tiba dihadapkan pada sesuatu yang tidak mengejar mereka sama sekali.
Mereka tidak siap untuk itu.
Bukan Salah Mereka, Lalu?
Saya tidak menyalahkan anak-anak muda sepenuhnya. Ini bukan soal malas semata — meski kemalasan tentu ikut berperan. Ini soal apa yang sudah kita: orang tua, guru, pemerintah, industri media tanamkan selama bertahun-tahun.
Berapa banyak sekolah yang punya perpustakaan layak? Berapa banyak guru yang membaca buku di luar buku ajar? Berapa banyak orang tua yang anaknya melihat mereka membaca sebelum tidur dan bukan menggulir layar ponsel?
Kita menciptakan lingkungan yang tidak memberi ruang bagi kebiasaan membaca, lalu kita terkejut ketika kebiasaan itu tidak tumbuh.
Itu seperti menanam di tanah beton, kemudian bertanya mengapa benihnya tidak berkecambah.
Yang saya khawatirkan bukan sekadar angka literasi yang rendah di survei-survei internasional yang meski angka itu memang menyedihkan. Yang lebih dalam dari itu adalah kehilangan yang tidak terasa: kemampuan untuk berpikir panjang.
Membaca buku melatih otak untuk menunda kepuasan. Untuk bertahan dalam ketidakpastian narasi sebelum tiba di kesimpulan. Untuk membangun argumen berlapis, bukan sekadar reaksi cepat 280 karakter.
Tanpa itu, kita mencetak generasi yang pandai berpendapat tapi miskin pemikiran. Keras bersuara tapi dangkal berargumen. Cepat marah tapi lambat memahami.
Dan di era demokrasi yang mensyaratkan warga negara yang mampu berpikir kritis, itu adalah bencana yang datang perlahan-lahan, tanpa sirene, tanpa breaking news.
Tentang Kebiasaan, Sekali Lagi Kebiasaan
Seorang kolega saya, editor senior di sebuah harian nasional, pernah berkata sesuatu yang terus saya ingat: “Orang yang tidak membaca tidak lebih bodoh. Mereka hanya lebih mudah ditipu.”
Kalimat itu kasar. Tapi saya sudah terlalu lama di dunia ini untuk menyangkalnya.
Hoaks menyebar bukan karena orang jahat. Ia menyebar karena orang-orang yang terlalu lelah atau terlalu tidak terbiasa untuk duduk sebentar dan bertanya: benarkah ini? Membaca melatih kebiasaan itu. Bukan semua buku, bukan semua pembaca tapi budaya membaca, secara kolektif, membangun pagar terhadap manipulasi massal.
Ketika pagar itu runtuh, yang masuk bukan hanya angin.
Saya tidak romantis soal buku. Tidak semua buku layak dibaca. Tidak semua yang tercetak adalah kebenaran. Dan saya tahu, betul-betul tahu bahwa dunia sudah berubah, dan cara orang mengonsumsi pengetahuan pun ikut berubah.
Tapi ada yang tidak berubah: otak manusia tetap butuh kedalaman. Butuh narasi yang tidak selesai dalam tiga menit. Butuh ruang untuk bingung, bertanya, dan akhirnya, mungkin jadi mengerti.
Buku, dengan segala ketidaksempurnaannya, masih menjadi salah satu sedikit tempat di mana kedalaman itu bisa ditemukan.
Generasi muda kita lapar. Tapi mereka diberi camilan terus-menerus hingga tidak tahu lagi rasanya kenyang yang sesungguhnya.
Tugas kita, atau siapa pun yang masih peduli, bukan ceramah panjang tentang pentingnya membaca.
Tugas kita jauh lebih sederhana dan jauh lebih berat dari itu: tunjukkan kepada mereka bahwa membaca itu mungkin. Bahwa duduk diam itu tidak membunuh. Bahwa ada dunia yang hanya terbuka lewat halaman-halaman yang mereka anggap membosankan itu.
Mulai dari satu buku. Satu halaman. Bahkan satu paragraf.
Tapi mulai.